Cinta itu seperti seseorang yang menunggu bis…

Sebuah bis datang, dan kamu
bilang, “Wah…terlalu
sumpek dan panas, nggak bisa duduk
nyaman nih! aku
tunggu bis berikutnya saja”

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu
melihatnya dan
berkata, “Aduh bisnya kurang asik nih
dan kok gak
cakep begini… nggak mau ah..”….. (lagi…)

Diterbitkan di: on September 28, 2007 at 4:49 am Komentar (5)

AKu SaYang ” KAMU “

85564a67e79xn.jpg

Ketika aku diam aku tau kau nyata dan berarti bagiku…

kau yang harus kupertahankan untuk CINTA

karena kau begitu hangat dan nyaman aku dipelukmu…

lelahmu akan kubuat dalam karsa yang tak kunjung kusut…

kau akan selalu tersenyum

karenaku dan karena CINTA kita… (lagi…)

Diterbitkan di: on September 19, 2007 at 7:58 am Tinggalkan sebuah Komentar

Apa Arti Menjadi Seorang Kekasih?…

From The Chicken Soup for the Couple’s Soul:

dsc086333.jpg

 

Menjadi kekasih mempunyai makna yang jauh lebih dalam dari sekedar menikah…
Berjuta-juta orang menikah, tetapi hanya sedikit yang benar-benar saling mengasihi.
Untuk menjadi kekasih sejati, Anda harus bersungguh-sungguh bersama partner Anda…
Anda seorang kekasih bila menganggap partner Anda sebagai anugerah,
dan mensyukuri anugerah itu setiap hari.

Anda seorang kekasih bila ingat bahwa pasangan Anda bukan milik Anda bahwa dia adalah … (lagi…)

Diterbitkan di: on September 7, 2007 at 7:01 am Tinggalkan sebuah Komentar

“mengertikah ????”

DIKALA JIWAKU LELAH …

TAK ADA YANG MAMPU BERSUA MEMAHAMI PEDIHKU… (lagi…)

Diterbitkan di: on September 6, 2007 at 7:17 am Tinggalkan sebuah Komentar

AIR MATA …

” jangan bersedih karena kau terlalu sering menangis!!!!karena air mata membawa sedikit kebahagiaan dan kepuasan dalam hati kecil kita masing2… pahamilah itu dan kau akan yakin tak selamanya orang tegar dan berani tak meneteskan air mata…jadi karena air mata itulah bahagia akan sellau berpihak padamu…”

Diterbitkan di: on September 3, 2007 at 6:18 am Komentar (2)

\\\\Aku Bahagia///

Dalam malam berpijar

aku tak sanggup bersua dengan pekatnya sepi…

aku ingin berlari tanpa ada yang menanti

hingga aku tak mampu meneteskan kesedihanku

aku bahagia karena aku dicinta … (lagi…)

Diterbitkan di: on at 6:18 am Tinggalkan sebuah Komentar

Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk

Dear friends,

Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar
hatinya, adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?

Tahukah anda kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?

Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk
diungkapkan adalah :

Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku (lagi…)

Diterbitkan di: on at 3:03 am Tinggalkan sebuah Komentar

TUHAN,DIA BAIK,PENGASIH DAN PENYAYANG.

Bacalah isi pesan ini dan pahamilah apa maksud dr pesan ini!
Pesan ini saya dapat dari Milis; True Worshippers;
Tolong untuk di forward lagi ya
Ooo ^ oo
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke gereja untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan.

Betapa lamanya melayani Allah selama satu jam; namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.

fiorentino_rosso_madonna_ch_saints_detl.jpg
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa(spontan); namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang. (lagi…)

Diterbitkan di: on Agustus 31, 2007 at 6:09 am Tinggalkan sebuah Komentar

“Kesaksian: Kematian Tragis Marla”…

 
  “Kesaksian: Kematian Tragis Marla”Ibunda Marla, Deborah Cardamone,
menceritakan kejadian sesungguhnya.

Anakku, Marla, baru berusia 18 tahun
saat ia akhirnya memutuskan untuk
menjalani aborsi di rumah sakit khusus
wanita yang ternama. Sebenarnya, ia
telah merencanakan untuk melahirkan
anaknya dan memberikan bayi itu untuk
diadopsi, tetapi pekerja sosial di
rumah sakit itu memaksanya untuk
menggugurkan kandungannya.

Pekerja sosial itu mengatakan kalau
Marla telah membuat bayinya cacat
karena ia sering meminum obat anti-
depresan. Meskipun angka statistik
menunjukkan 92% kemungkinan bayi akan
selamat dari cacat karena meminum
banyak obat anti-depresan, Marla tetap
menjalani serangkaian tes untuk
memastikan kesehatan anaknya. Setelah
mendapatkan hasil USG, si pekerja
sosial di rumah sakit itu tetap
memaksa Marla untuk melakukan aborsi.
Akhirnya, Marla menyerah dan
memutuskan untuk menggugurkan
kandungannya.

Hari saat Marla melakukan aborsi,
ketakutan mulai menjalar di tubuhku.
Aku takut akan keselamatan Marla,
meskipun aborsi dilakukan di rumah
sakit terkemuka. Pastilah ia berada di
tempat yang aman. Tetapi aku tidak
tenteram. Cucuku akan segera mati.

Kira-kira pukul 13.00 siang itu,
seorang perawat mendorong Marla masuk
ke ruang pemeriksaan dan mulai
memasukkan obat mulas ke dalam rahim
Marla. Mereka juga mulai menginduksi.
Hingga malam pukul 23.00, aborsi belum
juga selesai dilakukan. Aku ingin
tetap berada bersama Marla, tetapi ia
memaksaku pulang karena sudah terlalu
malam. Aku menciumnya dan
berkata, “Aku mencintaimu. Sampai
bertemu besok pagi.” Itulah kali
terakhir aku melihatnya hidup.

Pukul 09.15 pagi keesokan harinya, aku
menerima telepon dari bagian ICU rumah
sakit itu. Seorang perawat
mengatakan, “Sesuatu berjalan salah.
Marla dalam keadaan serius!” Aku
segera menuju ke rumah sakit dan
berlari ke bagian ICU. Dua kali dokter
yang menangani Marla keluar dari kamar
dan menanyakan serangkain pertanyaan
mengenai Marla. Setiap kali aku
bertanya untuk menjenguknya, setiap
kali pula aku dilarang oleh petugas
rumah sakit. Lalu, ruangan tempatku
menunggu tiba-tiba seperti diisi oleh
kabut putih yang tebal. Seorang dokter
duduk disebelahku sambil memegang
tanganku. “Anakku telah mati. Betul
kan?” Dokter itu hanya
mengangguk. “Tidak tidak tidak
mungkin!” teriakku sambil menangis.
Marla yang malang. Aku tidak percaya
hal ini terjadi. Dadaku menjadi sesak.
Aku tidak dapat mengendalikan diri
lagi. Berita duka ini telah merobek
hati dan jiwaku dan hampir saja
menyedot hidupku.

Akhirnya, mereka memperbolehkan saya
menjenguk Marla. Saat aku memasuki
kamarnya, aku tidak dapat mempercayai
apa yang kulihat. Marla-ku sayang
terbaring disana dengan muka yang
menakutkan, hampir-hampir tak dapat
kukenali lagi. Selang masih dipasang
di mulutnya dan aku dapat melihat
darah menutupi gigi dan gusinya.
Matanya setengah terbuka, bagian putih
dari bola matanya kini menjadi kuning
tua. Mukanya bengkak dan berwarna ungu
tua. Bagian kiri dari wajahnya
terlihat seperti orang yang baru
terkena stroke. Yang kuinginkan saat
itu adalah memeluknya. Tetapi, yang
kulakukan adalah mengambil tangannya
dan memberikan ciuman perpisahan.

Bagaimana mungkin ini terjadi pada
Marla? Satu-satunya cara untuk
mengetahui kebenaran adalah dengan
menggugat rumah sakit itu. Aku
berjanji untuk tidak menjadikan
kematian Marla hanya sebatas angka
statistik. Kami menemukan fakta bahwa
kematian Marla disebabkan oleh teknik
aborsi yang salah. Ia terserang
septicemia – infeksi darah – yang
berlangsung dengan cepat. Dalam waktu
kurang dari 24 jam, nyawa anakku
hilang. Kami juga mengetahui bahwa
pekerja sosial yang menyarankan aborsi
pada Marla sebenarnya tidak pernah
melihat hasil USG yang dilakukan Marla
maupun mendiskusikan hasil USG itu
dengan Marla. Marla sendiri tidak
pernah diberikan hasil USG dan laporan
pemeriksaan bayinya yang
tertulis: “Tidak ditemukan kelainan.”
Jika Marla mengetahui hasilnya,
pastilah ia tidak mau melakukan aborsi.

Saat sekarang, aku masih sering
memandangi foto mendiang anakku dan
berujar, “Mengapa?” Aku memandangi
matanya yang indah dan ini membuatku
benar-benar sedih. Rasanya baru
kemarin ia berdiri disini, tersenyum,
tertawa dan mengisi hidupku. Marla
seorang yang baik hati dan ia mau
membagikan kebahagiaannya pada dunia,
tetapi sekarang ia tidak bisa lagi.
Hidupnya telah diputus. Kejadian ini
benar-benar tidak diharapkan. Kami
tidak akan pernah melihatnya kembali.
Secara tiba-tiba, ia pergi, dan ia
baru berusia 18 tahun.

Tolonglah aku, buatlah aku yakin kalau
anakku dan cucuku tidak akan pernah
terlupakan. Tolonglah aku untuk
menyebarkan pengalaman Marla ini ke
seluruh dunia. Para wanita perlu
diperingati supaya tidak terulang lagi
kejadian serupa. Dengan bantuan Anda,
kita dapat menyelamatkan para ibu dan
anak-anaknya. Anda dapat membuat
perbedaan. Aborsi bukan pilihan
terbaik. Tolonglah aku untuk
menyebarkan berita ini. Terima kasih.
Hormat saya, Deborah Cardamone (Ibunda
Marla)

(dari situs Pro-Life, USA)

Diterbitkan di: on at 4:34 am Tinggalkan sebuah Komentar

==KAN MASIH ADA HARI ESOK==

attachment.gifPada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya,
membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.

Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia
dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang wanita yang sangat cantik dan baik. Wanita ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, “Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka.” Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.

Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya. Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya “Aku cinta kamu”, tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, “Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya.”

Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata “Aku cinta kamu”, istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya.

Tapi, dia baru sadar bahwa anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, “Ah, Andai saja aku menyadari ini dari dulu….” Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan airmata di pipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada Anda, waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, Anda ternyata telah maju terlalu jauh. Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah! Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka “besok” akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu. (SM)

Diterbitkan di: on at 4:21 am Tinggalkan sebuah Komentar